Wednesday, May 28, 2014

2 Walisongo dan Teladan Sukses Berdakwah

Walisongo & Teladan Sukses Berdakwah


Walisongo dan Teladan Sukses Berdakwah


Walisongo & Teladan Sukses Berdakwah, Walisongo artinya 9 wali, walisongo dikenal sebagai penyebar agama islam di indonesia. Dakwah walisongo relatif cepat diterima oleh masyarakat, walisongo datang bukan sebagai pedagang tetapi sebagai golongan brahmana (guru-guru). Penyebaran islam oleh para wali dilakukan secara damai (tanpa konflik), bukan seperti di Indonesia yang sekarang ini yang menurut saya keras dan berdakwah dengan cara menakut-nakuti orang dengan menyertakan ayat-ayat yang tidak sesuai dengan konteksnya. Islam dan Indonesia dapat bertahan sampai sekarang karena peran para wali. Dakwah Islam yang dilakukan Walisongo yang sukses mengajarkan Islam secara damai ke bumi Nusantara serta peran membangun peradaban kehidupan negeri Indonesia hingga dapat bertahan sampai kini.

Cara berdakwah walisongo sampai sekarang masih dipakai dibeberapa tempat dan pondok pesantren. Cak nun merupakan salah satu orang yang berdakwah seperti yang dilakukan walisongo dalam kegiatan maiyah, yang merangkul semua kalangan baik islam maupun yang belum islam untuk rukun bersama. Dakwah yang dilakukan menyesuaikan dengan karakteristik budaya setempat, sehingga dapat diterima di semua kalangan. Dibeberapa pesantren juga menerapkan dakwah yang sama. karena perlu pengembangan dakwah yang sesuai dengan Ahlussunnah wal jamaah, Walisongo, Indonesia Mercusuar Dunia. 

Kondisi masyarakat indonesia saat ini sangat memprihatinkan, kondisi masyarakat Indonesia saat ini yang memerlukan teladan dalam melakukan dakwah Islam karena dekadensi moral. Masyarakat saat ini lebih mementingkan aqidah pribadi dan tidak mementingkan akhlak (moralnya), karena mereka diajarkan seperti kondisi masyarakat mekah pada zaman nabi, padahal indonesia (jawa) sudah lebih tinggi peradaban dan kekeluargaannya dan akan lebih cocok dengan ajaran islamnya di madinah pada zaman nabi. Dengan diajarkan ajaran yang tidak sesuai kondisinya maka kekeluargaan (moral) seseorang akan luntur dan akan lebih mementingkan diri sendiri. keaadan ini didukung oleh beberapa ajaran islam yang berkembang pesat saat ini islam yang cenderung tekstual, dan memunculkan banyak konflik dimasyarakat. Karena cenderung tekstual, maka munculah arabisasi budaya bukan islamisasi budaya. Sekarang ini teks arab sama dengan islam, karena masyarakat saat ini berfikir tekstual. Untuk itu dibutuhkan dakwah yang bukan tekstual tetapi inti ajarannya yang disampaikan dengan tidak membuang nilai budaya setempat. Karena budaya bukan agama yang sekarang ini disalah artikan sehingga budaya arab adalah islam. seperti yang dikatakan almarhum gus dur.

Karena perkembangan zaman saat ini, di tengah kedinamisan peri kehidupan bangsa Indonesia termasuk di dalamnya perkembangan internet & smartphone, media televisi, dan media sosial. dimana setiap orang memegang hp yang bisa digunakan untuk internet facebook, twitter, google dll. Dakwah islam saat ini bisa dilakukan melalui media online baik media sosial maupun website, media TV, youtube dan lain-lain. Karena masyarakat saat ini lebih suka membaca lewat hp daripada membaca lewat buku ataupun kitab dan dimanapun mereka bisa membukanya.

Negara-negara Jazirah Arab dan Afrika yang mayoritas beragama Islam namun mengalami kegoncangan kemanusiaan, untuk itu perlu  dakwah Islam khas Nusantara seperti yang dilakukan walisongo. Indonesia khususnya jawa memiliki kebudayaan yang tinggi sesuai perilaku nabi walaupun islam belum masuk di indonesia. Indonesia sesungguhnya sangat cocok dengan karakteristik islam yang diajarkan nabi Muhammad SAW. Sedangkan dinegara lain contohnya di arab, budaya mereka adalah orang keras, dan budaya merekalah yang seburuk-buruknya budaya sehingga nabi dibutuhkan disana. Untuk itu perlu orang jawa yang budayanya lebih dekat seperti perilaku nabi untuk melakukan dakwah disana seperti yang dilakukan walisongo dengan akulturasi budaya dengan ajaran islam, sehingga islam dapat berkembang di arab dan negara lain sesuai yang diajarkan nabi. karena penafsiran secara tekstual dapat menyebabkan konflik sosial karena perlu pemahaman yang lebih terhadap ayat dan hadits nabi.

Dakwah Walisongo perlu dilakukan di indonesia dan bisa juga dilakukan di semua negara, keteladanan walisongolah yang diperlukan untuk saat ini karena pemahaman yang berkembang yang tekstual yang membuat konflik sosial. Sehingga perlu dakwah yang sesuai Ahlussunnah wal jamaah, Walisongo, Indonesia Mercusuar Dunia

 Walisongo dan Teladan Sukses Berdakwah

Monday, December 23, 2013

0 Maiyah - Presiden by Emha Ainun Nadjib

Presiden by Emha Ainun Nadjib

========================================================================
Maiyah, Presiden by Emha Ainun Nadjib di blog Maiyah ini diposting oleh Horiq Sobarqah 23 Desember 2012. ( 5.0 )

http://mocopatsyafaat.blogspot.com/2013/12/maiyah-presiden-by-emha-ainun-nadjib.html
Maiyah - Presiden by Emha Ainun Nadjib, Presiden kita berikutnya jangan asal Presiden. Pemimpin nasional kita sebentar lagi jangan sembarang pemimpin. Lebih selamat kalau rakyat mencari pemimpin, bukan menunggu orang-orang yang menyodorkan dirinya untuk menjadi pemimpin. Rakyat sebagai pemegang kedaulatan kalau bisa mulai belajar untuk tidak meneruskan tradisi kelalaian membiarkan dirinya dipimpin oleh “pemimpin setoran” dari perusahaan-perusahaan politik. Apalagi kalau yang setor adalah parpol. Sebab Parpol tidak punya keperluan terhadap pemimpin sejati. Ekspertasi parpol adalah mencari laba, fokusnya dalam hal kepemimpinan adalah tawar menawar dan mengambil mana yang paling menguntungkan perusahaannya.

Kalau konstitusi dan undang-undang tidak memungkinkan rakyat mencari pemimpin sendiri, berarti undang-undangnya dibikin tidak berlandaskan kejernihan ilmu, kejujuran demokrasi dan jiwa kasih sayang kepada rakyat.

Saya tidak percaya bangsa Indonesia memang hobi masuk ranjau, sehingga menjalani sejarah dengan gairah sakit jiwa mencari ranjau-ranjau baru. Mungkin karena penderitaan dan ketertindasan sudah menjadi narkoba psikologi dan budaya mereka.

Usia rata-rata penduduk Indonesia adalah 27,5 tahun. Anak-anak muda adalah penduduk mayoritas. Mereka sangat potensial untuk tidak mempermudah jalan bagi siapapun untuk menjadi Presiden. Kriteria dan syarat-rukunnya wajib dilipat-gandakan dibanding presiden-presiden sebelumnya. Ini Negara besar dengan problema sangat besar. Ini bangsa besar dengan ujian yang luar biasa besar. Ini tanah air kaya raya dengan kesembronoan pengelolaan yang sangat melampaui batas. Ini kepulauan raksasa dihuni oleh manusia-manusia spesifik, prolifik dan multi-talent, namun sedang berada di titik nadir ketidakpercayaan diri. Ini Garuda, sedang mabuk jadi Emprit.

Calon pemimpin tidak sekedar diuji integritas moralnya, kematangan proffesionalnya, kredibilitas ekspertasinya, visi masa depannya, akurasinya dalam menemukan segala sesuatu yang bermanfaat bagi rakyatnya, keberaniannya mengambil resiko pribadi untuk keperluan rakyatnya, serta berbagai parameter lainnya yang dikenal oleh pemikiran kenegaraan modern.

Kalau pakai common-sense, Presiden dan Pemerintah memiliki mental berani tidak makan sebelum rakyatnya kenyang. Ibarat kepala keluarga, kalau ada kenduri, ia makan terakhir. Kalau ada kebakaran, semua anggota keluarga ia upayakan keluar rumah duluan. Ibarat kantor, Presiden adalah karyawan rakyat yang datang paling awal dan pulang paling akhir. Presiden siap menjadi orang paling sedih dibanding semua orang.

Atau ambil wacana dari Agama: Presiden adalah orang yang paling berat hatinya melihat penderitaan rakyatnya, sementara ia tidak cengeng atas penderitaannya sendiri. Hatinya tidak tegaan kepada nasib orang banyak. Kalau Malaikat mendadak datang mencabut nyawanya, Presiden merintih: “Rakyatku… rakyatku… rakyatku…”, bukan “Ibu…istriku…anakku….”

Adab sosial Bangsa Jawa menemukan idiom “manunggaling kawula lan Gusti”. Menyatunya hamba dengan Tuhan.

Bukan hamba adalah rakyat, Presiden adalah Tuhan. Itu pemahaman manipulatif untuk keperluan feodalisme budaya dan kekuasaan politik. “Manunggaling kawula lan Gusti” bukan rakyat harus mematuhi dan melaksanakan kehendak Presiden.

“Presiden” itu suatu idiom di dalam bingkai konsep kenegaraan modern yang mengacu pada ideologi demokrasi. Demokrasi menetapkan suatu kebenaran bahwa tanah air dan lembaga Negara adalah hak milik rakyat. Seseorang diangkat menjadi Presiden pada posisi dimandati, dipinjami atau diamanati sebagian kedaulatan dalam batas ruang dan selama waktu tertentu. Maka tafsir feodal “menyatunya hamba dengan Tuhan” tidak bisa dipinjam oleh pemikiran demokrasi untuk mengabsolutkan kekuasaan Presiden.

Mungkin sebagian Raja di masa lalu memperdaya rakyatnya dengan penafsiran yang disebarkan bahwa rakyat adalah “kawula” dan Raja adalah “Gusti”. Tetapi sejak Sunan Kalijaga di abad 14-16 M menginnovasikan penghadiran Semar di dalam peta kekuasaan Kerajaan-kerajaan yang dikenali masyarakat melalui Wayang, struktur hubungan vertikal hamba-Gusti rakyat-Raja direlatifkan oleh adanya Semar.

Semar adalah rakyat biasa, Ki Lurah Semar Bodronoyo di sebuah dusun bernama Karang Kedempel. Pada saat yang sama beliau adalah Panembahan Ismaya. Dewa yang posisinya sangat tinggi, paling senior, di atasnya Bathara Guru Presidennya Jagat Raya. Di atas Semar langsung adalah Sang Hyang Widhi (istilah Arabnya “Ilahi”) atau Sang Hyang Wenang (“Robbi”), yakni yang di segala zaman dikenal sebagai Tuhan itu sendiri dengan sebutan bermacam-macam.

Dengan adanya Semar struktur kedaulatan vertikal dilengkungkan menjadi bulatan. Kekuasaan itu siklikal. Semar ada di titik tertinggi di bawah Tuhan, sekaligus di titik terendah bersama rakyat jelata. Dua titik itu satu, sehingga garis lurus vertikal itu menjadi bulatan. Sangat indah Sunan Kalijaga mendisain demokrasi.

Maka tafsir “manunggaling kawula lan Gusti” yang saya sebarkan beberapa tahun belakangan ini adalah bahwa di dalam diri seorang Presiden, “kawula” dengan “Gusti” itu “manunggal”. Di dalam entitas tugas kepresidenan, rakyat dengan Tuhan menyatu. Di dalam dada dan kepala Presiden, rakyatnya dengan Tuhannya tidak bisa dipisahkan. Kalau Presiden menindas rakyatnya, Tuhan sakit hati. Kalau Presiden mengkhianati Tuhannya, rakyat turut tertimpa kehancuran karena kemarahan Tuhan.

Isi kepala Presiden adalah kesibukan mesin penyejahteraan rakyat, isi dadanya adalah “rasa bersalah” karena belum maksimal bekerja, “rasa malu” karena belum berhasil seperti yang seharusnya, serta “kerendahan hati” kepada Tuhan dan rakyatnya.

Maka sejak semula ia tidak menawar-nawarkan diri, memasang gambar-gambar wajahnya di sepanjang jalan, menyatakan “aku yang baik” — yang maknanya adalah “selain aku tak ada yang baik”. Kata tukang-tukang becak di Yogya: “bisa rumangsa, ora rumangsa bisa”: sanggup merasa tak mampu, bukan mampu merasa “aku bisa”. Toh nanti rakyatnya akan memberi “raport” kepada setiap Presidennya ia bisa ataukah ber-bisa. Orang yang bilang “aku bisa” adalah orang yang tak percaya diri sehingga memompa-mompa dan membisa-bisakan diri.

Sebenarnya agak mengherankan bahwa, rakyat Jawa umpamanya, bisa sedemikian serius kehilangan kearifan lokalnya, setelah mereka terseret memasuki model aplikasi tipu-daya demokrasi untuk memilih pemimpin mereka. Seluruh cara orang-orang yang mencalonkan diri menjadi Presiden, Dewan Perwakilan, Gubernur, Bupati, Walikota hingga Lurah, tanpa terkecuali seluruhnya sangat menunjukkan bahwa mereka adalah orang-orang yang “rumangsa bisa”. Nuansa budaya pencalonan dengan modus “rumangsa bisa” itu dipastikan akan membuat semua orang lain yang berkwalitas “bisa rumangsa” akan minggir dari lapangan politik. Sehingga bisa dipastikan juga bahwa hampir mustahil rakyat akan memperoleh pemimpin yang sebagaimana mereka dambakan dari antara para pemamer wajah yang mutunya adalah “rumangsa bisa”.

Di Masjid dan Mushalla manapun tidak ada orang bodoh tak tahu diri yang berteriak “Ayo kalian berbaris makmum, saya yang paling pantas menjadi Imam shalat kalian”. Dalam kehidupan manusia yang berakal, pemimpin lahir dari apresiasi rakyatnya dan rakyat pulalah yang mendaulatnya menjadi pemimpin. Kiai dan Ustadz menjadi Kiai dan Ustadz karena ummat menemukan kesalehan mereka dan mengangkat mereka menjadi “Ki Hajar”, tempat semua orang merujukkan persoalan. Kiai dan ustadz tidak lahir dari pemilik modal dan pengarah acara televisi.

Kalau pakai filosofi klasik, manusia ada empat: (1) orang yang mengerti dan mengerti bahwa ia mengerti, (2) orang yang mengerti tapi tak mengerti bahwa ia mengerti, (3) orang yang tak mengerti tapi ia mengerti bahwa ia tidak mengerti, kemudian (4) orang yang tidak mengerti dan tak mengerti bahwa ia tak mengerti — maka Presiden kita adalah manusia kategori pertama.

Kalau pakai peta akademis, (1) orang yang tahu sedikit tentang sedikit hal, (2) orang yang tahu banyak tentang sedikit hal, (3) orang yang tahu sedikit tentang banyak hal, kemudian (4) orang yang tahu banyak tentang banyak hal – maka Presiden kita adalah manusia keempat.

Atau pakai pakai pendekatan “intel” : (1) ada sesuatu yang seseorang tahu dan masyarakat tahu, (2) ada sesuatu yang seseorang tahu tapi masyarakat tidak atau belum tahu, (3) ada sesuatu yang masyarakat tahu tapi seseorang itu tidak atau belum tahu, kemudian (4) ada sesuatu yang seseorang maupun masyarakat tidak atau belum tahu — maka yang keempat inilah Presiden kita nanti.

Ia bukan hanya Presiden suatu Negara, tapi juga pemimpin suatu masyarakat, guru suatu bangsa. Presiden berdiri sendirian memandang sesuatu yang semua orang dan ia sendiri belum tahu. Tugasnya sebagai Presiden adalah mencari tahu. Ia berdiri paling depan menembus kegelapan, untuk menemukan cahaya.

Presiden menjadi Presiden karena ia punya kesanggupan akal, stamina mental, keluasan hati, kesabaran rohani serta kekompakan frekwensi dengan seluruh unsur jagat raya — untuk membawa “oleh-oleh” kepada rakyatnya sesuatu yang sebelumnya rakyat belum tahu sehingga belum pernah merasakan. Salah satu hal yang Presiden perlu cari tahu adalah: untuk Indonesia yang hancur lebur sekarang ini, ia wajib berani mati, misalnya beberapa minggu atau bulan sesudah dilantik.

Presiden adalah orang yang paling berani bergerak meringsek masa depan yang gelap. Ia melindungi rakyatnya yang tidak tahu, ia berperang melawan ketidak-tahuannya, kemudian ia memenangkan peperangan itu dan menghasilkan sebuah pengetahuan yang baru sama sekali, yang belum pernah ditemukan oleh siapapun sebelumnya. Presiden adalah “pengarep”, perintis, pelopor, ujung tombak sejarah, yang siap sirna ditelan resiko perjuangan dalam gelap mencari cahaya.

Presiden adalah pengambil keputusan pertama dan utama untuk melangkahkan kaki menapaki kegelapan. Sebab manusia itu hidup dulu baru mengerti, bukan mengerti dulu baru hidup.

Di bawah ubun-ubun kepala Presiden terdapat “chips” penerima dan pengolah cahaya. Daya serap dan daya olah cahaya itu mensifati pandangan matanya, pendengaran telinganya, struktur urat sarafnya, modulasi kuda-kuda jasad dan ruhaninya dengan “badan besar” alam semesta. Maka dari telapak tangannya memancar cahaya.

Dengan suluh cahaya telapak tangan ilmu itu ia menapaki kegelapan. Ya. Masa depan itu gelap. “Aku”, kata Tuhan, “memperjalankan hamba-hambaKu menembus kegelapan malam hari”. Hidup adalah malam hari, karena “sekarang” sesungguhnya tak ada. Tatkala engkau berada di “se”, tiba-tiba sudah “ka”. Dan tatkala engkau tiba di “ka”, “se” sudah masa silam yang “tiada”, sementara “rang” adalah masa depan yang engkau tak tahu apa-apa.

Jika engkau melembut, waktu tampak olehmu. Jika engkau meregang membesar, engkau paham kebesaran ruang, keluasan dan ketidak-terbatasannya tak terjangkau olehmu. Maka kuda-kuda terbaik bagi setiap makhluk, apalagi manusia, adalah kerendahan hati. Itulah ‘kesadaran debu’.

Tak bisa kau tempuh gelapnya “rang” dengan modal “merasa bisa”. Hari siangpun gelap. Sebab matahari bukan benar-benar bercahaya sebagaimana yang ilmu memerlukan. Matahari hanya mengantarkan kesadaran tentang cahaya. Orang menanam tak tahu panennya, orang berjualan tak tahu berapa calon pembelinya. Orang lahir tak tahu matinya. Pada interval antara diri mereka dengan titik ketidak-tahuan itu terdapat bentangan nasib, mungkin ada sejumlah Malaikat berseliweran, Dewa Nasib, makhluk distributor “pulung”, atau apapun namanya.

Mungkin itulah sebabnya Tuhan memberi tuntunan melalui salah satu sifat-Nya sendiri: kalau mau jadi Presiden, pertama sekali kamu harus “mempelajari kegaiban, dan menyaksikannya”. ‘Alimul-ghaibi was-syahadah. Kognitif dan empiris. Kegaiban yang paling utama adalah rahasia hati rakyatmu. Justru karena itu maka sesungguhnya cahaya itu terletak di kandungan hati nurani rakyatmu.

Sebagai Presiden kau menggenggam suluh cahaya. Kau tak punya kemungkinan lain pada posisi itu kecuali melimpah-limpahkan kasih sayangmu kepada rakyatmu. Engkau menjadi kabel yang dilewati arus listrik “Rahman”, cinta yang meluas, serta “Rahim”, cinta yang mendalam, sampai 12 tingkat frekwensi perjuangan kepresidenanmu. Atau sesekali tengok Ronggowarsito: pemimpinmu berikut ini adalah “Satria Pinandita Sinisihan Wahyu”. Pendekar ilmu dan managemen, yang hatinya sudah selesai dari nafsu keduniaan, dibimbing “pendaran-pendaran gelombang elektromagnetik” hidayah Tuhan di ubun-ubunnya.



 

Yogya 10 Oktober 2012
Oleh: Emha Ainun Nadjib
Dimuat di Kolom Opini, Harian Kompas Edisi 13 Oktober 2012

artikel terkait:   http://www.caknun.com/2012/presiden/

Sunday, December 22, 2013

0 Maiyah - Dagelan Keindonesiaan Emha (Cak Nun)

Maiyah - Dagelan Keindonesiaan Emha

========================================================================
Maiyah, Dagelan Keindonesiaan Emha di blog Maiyah ini diposting oleh Horiq Sobarqah 22 Desember 2013. ( 5.0 )

http://mocopatsyafaat.blogspot.com/2013/12/maiyah-dagelan-keindonesiaan-emha-cak.html


Maiyah - Dagelan Keindonesiaan Emha - Jalan menulis bagi siapa pun ibarat kelokan bercabang dari sehampar cerita manusia. Seakan di pedalamannya tersimpan setangkup ”kitab kehidupan” yang terus berpendaran dan menggelitik untuk diamati dan dilacak, meski tak bakal pernah selesai. Selalu ada sisa di balik yang tersembunyi. Oase hening, tapi sayup-sayup dari kejauhan masih nyaring. Seberkas kenangan, dari ratusan tulisannya, yang kini semangat menulisnya itu terus berdetak.
Dialah Emha Ainun Nadjib atau Cak Nun. Saya selalu geringgingan, ketawa-ketiwi, dan berdecak saat membaca karya-karyanya yang terbit sekitar ‘80-an dan ‘90-an. Hingga sekarang, dia masih tetap menulis, meski sudah tidak begitu intens.

Barangkali ”Kitab Garing” atau lebih spesifik dunia menulis, bagi Cak Nun sudah selesai dalam tataran jika untuk sekadar ”mati-matian” dipertahankan sebagai jalan hidup. Dia pernah menulis esai, Sastra Dewa, Sastra Macan, Sastra Tank di majalah Tempo, 28 Agustus 1982. Di situ dia berkata: Sastra barangkali hanya semacam Sekolah Rakyat yang ikut berproses, diproses, dan memproses kehidupan: tak perlu dilebihkan atau dimatikan. Ia mungkin bersahaja, tapi tetap sesuatu. Ia misteri, bukan karena ”kekaburan”-nya, tapi justru karena ia bukan sekadar kata, ia suatu gerak kehidupan.

Cak Nun barangkali telah melampaui dunia ”Kitab Garing” ini, dunia yang tampak dari perspektif lahiriah. Dan kini pada tahap ”Kitab Teles”: menguliti, menelusuri, atau berlelaku secara Ilahi dalam segala aspek kehidupan nyata. Ya, seperti penggalan sajak W.S. Rendra: Rasanya setelah mati berulangkali, tak ada lagi yang mengagetkan di dalam hidup ini (Hai, Ma!). Tentu saja, bukan kematian berkali-kali pada diri Cak Nun. Namun, kesadarannya menyelami intisari keilahian hidup ini bagai berproses menjalani ‘’seribu kehidupan menuju Tuhan” sebagaimana nyanyian Simurgh dalam Mantiq al-Thair-nya Fariduddin Attar. Membagi kesadaran berislam dan berbangsa selama 13 tahun lalu bersama jamaah pengajian Padang Bulan di Menturo, Jombang. Pun jamaah Maiyyah di Kasihan, Bantul, Jogja.

Tak ada yang tidak fenomenal, bahkan subversif, dari cetusan pemikiran Cak Nun. Membaca ketidakpastian situasi Indonesia detik ini ibarat menonton dagelan yang bisa meledakkan tawa sekaligus kepahitan yang mendesak dada. Di sinilah Emha mengocok permenungan kita. Seperti getar air bah, lakonnya terus bergerak seiring perubahan waktu. Terbukti, penyair dan budayawan itu juga menyimpan empati yang tanpa henti terhadap nasib bangsanya yang remek dan mengalami kebangkrutan jati diri. Bak Kiai Slilit, Emha mengorek slilit sekisar keruwetan bangsa dengan analisis yang tajam, luwes, aktual-progresif, jernih, cemerlang, bebal, ngludruk, dan menohok, mulai soal kemiskinan sampai kebobrokan institusi-institusi pemerintah yang tak becus mengatur negara.

Kita bisa melongok buku Kiai Bejo, Kiai Untung, Kiai Hoki. Buku tersebut merupakan rekaman yang memuat 43 percikan permenungan Emha. Ada yang pendek, ada yang panjang. Dia mengulik problematik sosial dalam sejumlah esainya. Misalnya, Wong Cilik dan Dendam Rindu Jakarta; SDM Vs Manusia Indonesia Seutuhnya; Buruh Itu Kekasih; Kasih Sayang dan Reformasi Internal; Gunung Jangan Pula Meletus; dan Kiai Bejo, Kiai Untung, Kiai Hoki. Tentu tak lepas dari karisma ketokohan Emha yang serba-empatik menyikapi problem umat dan kebangsaan, juga keterlibatannya dalam penyelesaian masalah ganti rugi korban lumpur Lapindo.

Dari tulisan Kiai Bejo, Kiai Untung, Kiai Hoki itulah, Emha terus berikhtiar mengungkai watak kotor kesombongan manusia bangsa ini. Terkait dengan ketakaburan orang berkuasa, kesombongan orang kaya, kesombongan orang pandai, dan kesombongan orang saleh. Proposisi ini diawali dari identifikasi sederhana bahwa semua orang adalah rakyat, tapi kalau ada penguasa, yang kita maksud dengan rakyat tentulah mereka yang dikuasai. Sebab itu, rakyat adalah yang miskin, yang bodoh, dan yang selalu belum saleh. Rakyat akhirnya hanya dipandang sebagai organisme rapuh-lemah yang mesti diberdayakan dari ketertinggalan ekonomi, diselamatkan dari kemiskinan, dan dientaskan dari keterpurukan.

Bagi Cak Nun, ”Pandangan ini sangat laknat terhadap kenyataan bahwa sesungguhnya rakyat adalah pemilik kekayaan sangat melimpah dari tanah rahmat Tuhan Republik Indonesia, namun kekayaan rakyat itu dijadikan langganan perampokan oleh setiap penguasa. Dan, setiap penguasa itu selalu tidak tahu diri berlagak menjadi pahlawan yang akan mengubah kondisi miskin rakyat menuju tidak miskin.” Karena itu, tegas Emha, siapa pun yang bertengger dalam struktur pemerintah negeri ini adalah Kiai Bejo, Kiai Untung atau Kiai Hoki. Mereka mendapatkan keuntungan meski tanpa bekerja. Salah satu pemeo membuat rumus: orang bodoh kalah oleh orang pandai, orang pandai kalah oleh orang berkuasa, orang berkuasa kalah oleh orang kaya, orang kaya kalah oleh orang bejo. Setiap pemerintah Indonesia tidak terlibat dalam konstelasi pemeo itu. Sebab, mereka sekaligus pandai, berkuasa, kaya, dan bejo.

Maka, dampak secara keseluruhan atas kondisi culas itu terasa sungguh memedihkan bagi wong cilik. Sebab, ”kegiatan utama kebanyakan pejabat adalah mengacaukan stabilitas kesejahteraan rakyat, menikusi administrasi keuangan negara milik rakyat, mencuri secara berjamaah dengan modus-modus yang makin kasat mata. Namun, ‘ubet’ ekonomi rakyat, budaya ‘kaki lima’ yang cair dan longgar menciptakan semacam ‘pernapasan dalam’ yang membuat rakyat terus survive, meskipun tak ada suplai udara dari negara.”

Kepusparagaman tema dari kumpulan tulisan itu cukup inspiratif. Misal, isu santri sebagai agen teroris, SDM bangsa, buruh, ekspor ibu-ibu asuh, poligami, fundamentalisme, kriteria kepemimpinan, narkotika kebudayaan. Situasi bangsa yang karut-marut dan terempas seabrek bencana tak kunjung menyadarkan kita untuk berupaya memupuk tenggang rasa dan keprihatinan sosial. Generasi bangsa yang memimpin negara ini dilukiskan Emha seperti bocah ”Si Gundul Pacul” yang nakal pol, mblunat, mbetik, mbeling, cengengesan, sok benar, dan tak mau belajar. Kelakuannya seenak udelnya sendiri. Petentang-petenteng. Tak beres menjadi pemerintah. Risi berbuat kebajikan. Bisanya, membikin program kebaikan demi kesejahteraan perutnya sendiri. Ketika ribut memelototi bokong Inul yang ngebor pun goyangan Dewi Persik yang naudzubillah itu, juga riwayat santer si kanibal Sumanto, secara kualitatif, di situlah sebenarnya tampang asli rai-remek kita. Tapi, Sumanto hanyalah kanibal kelas teri. Dia cuma bernyali makan mayat. Itu pun mayat nenek-nenek yang dicolongnya dari kuburan. Sumanto tak berani makan rakyat sebagaimana yang dilakukan pengurus negara yang menguras dan nyesep habis kehidupan rakyatnya.

Apa yang terjadi dengan masyarakat kita yang sepintas terlihat teguh dan semarak beragama ini? Warga kita yang telanjur dikenal religius, juga aparatur pemimpinnya, kok bisa-bisanya ruwet mendefinisikan dan mensterilkan mental dan jati diri. Semuanya kok bertopeng. Memang dampak modernitas dan globalisasi berimbas pada cara berpikir kita yang cenderung berpola industrial alias instan. Kondisi masyarakat demikianlah yang diparabi Cak Nun sebagai ”Generasi Kempong”. Kita kelabakan digeruduk modernisme yang sejatinya ”hantu” sosial yang tersamar. Kebudayaan kita jadi instan. Minya instan. Lagunya juga instan. Sinetron dan filmnya instan. ”Kalau bisa,” gojek Emha, ”gak kerja tapi punya uang buanyak. Bahkan jika perlu, ndak usah ada Indonesia, ndak usah ada Nabi, ndak usah ada Tuhan juga ndak apa-apa, asal kurukan duit banyak.”

Daya gugah dan sentilan Cak Nun yang menerobos batas hingga ke wilayah persoalan-persoalan keseharian kita yang paling renik itulah yang jarang dibabah oleh kebanyakan tokoh kebudayaan kita. Dan, ini hanya soal ritme atau strategi budaya. Toh, dunia sastra, yang dilakoninya sejak awal, akan jadi biang narsis jika dijalani dengan methentheng di benteng ”menara gading”, mengumpulkan dan meracik ampas rohani yang tujuan akhirnya dapat menelurkan karya sastra yang adiluhung. Bagi Cak Nun, perkara berkarya mungkin tidak melulu melahirkan karya. Tapi, laku sosial dengan spirit punakawan ”Petruk si Kantong Bolong”: yang tak mengharap dapat apa dan menetaskan apa. Itulah yang lebih penting demi kemanfaatan manusia secara luas. Khairun nas anfauhum lin nas: sebaik-baik manusia adalah mereka yang paling berguna bagi manusia lain. (*)
...................................................................................................................
*) Fahrudin Nasrulloh bergiat di Komunitas Lembah Pring Jombang

sumber:
http://www.facebook.com/notes/buletin-mocopat-syafaat/dagelan-keindonesiaan-emha/10150646626156739 
http://indonesiabuku.com/?p=7117

Saturday, December 21, 2013

0 Maiyah - Sisi Filosofis Yogyakarta

Maiyah - Sisi Filosofis Yogyakarta Menurut Cak Nun

========================================================================
Maiyah, Sisi Filosofis Yogyakarta Menurut Cak Nun di blog Maiyah ini diposting oleh Horiq Sobarqah 21 Desember 2013. ( 5.0 )

caknun, novia kolopaking, kyai kanjeng

Maiyah - Sisi Filosofis Yogyakarta Menurut Cak Nun, Budayawan Emha Ainun Najib, yang akrab disapa Cak Nun, menggelar orasi budaya bersama kelompoknya, Kyai Kanjeng, dalam mengenang seabad Hamengku Buwono IX di Pergelaran Keraton Yogyakarta, Kamis malam, 12 April 2012. Pada orasi tersebut, budayawan yang pernah mengenyam ‘pendidikan’ bersama komunitas seniman di kawasan Malioboro di masa silam itu kembali membeberkan bagaimana bangunan konsepsi kosmologi Keraton Yogyakarta hingga kini bisa menjadi sentra panutan kebudayaan bagi masyarakatnya. “Keraton itu bukan sekadar kerajaan, tapi ajaran yang memiliki konsep jelas, ’memayu hayuning bawono’,” kata suami Novia Kolopaking itu. Konsep yang selama ini diartikan sebagai suatu upaya dalam mencapai keselamatan dan kesejahteraan hidup di dunia melalui penciptaan keselarasan tatanan hidup antarsesama dan Tuhan.

Keselarasan tatanan yang dibangun Keraton Yogyakarta dicermati Cak Nun terwujud dalam banyak hal sederhana. Misalnya saja dalam pengaturan tata wilayah. Tatanan yang ada tak sekadar dibangun dengan mempertimbangkan aspek teknis yang tampak, tapi juga sarat mempertimbangkan aspek filosofis, khususnya kosmologi semesta, hubungan manusia-alam, manusia, dan Tuhannya. Cak Nun, Ayah dari vokalis band Letto itu mencontohkan, peletakan monumen Tugu Yogyakarta yang berusia tiga abad atau dibangun sekitar setahun setelah Keraton Yogyakarta berdiri. Posisi monumen yang berada di simpang Jalan Pangeran Mangkubumi, Jalan Jendral Soedirman, Jalan A.M. Sangaji, dan Jalan Diponegoro itu mempunyai makna filosofi.

“Itu sebagai pancang dasar sebelum Yogya mulai membangun peradaban,” kata dia. Tugu Yogyakarta berada pada garis linier yang jika ditarik ke utara akan bertemu dengan Gunung Merapi dan selatan ke Laut Selatan. Di tengah garis itu, Keraton Yogyakarta berdiri. Tak hanya itu, penamaan jalan pada garis linier antara monumen Tugu hingga Keraton Yogya pun diungkap Cak Nun sarat makna, meski sekarang telah berganti.

Misalnya saja, dari monumen Tugu hingga rel kereta api Stasiun Tugu, sebelumnya dinamai sebagai Jalan Margo Utomo (sekarang Jalan Mangkubumi). Artinya, dalam hidup, manusia harus paham ‘pagar’ utamanya. Yakni bisa membedakan mana hitam dan putih atau baik-buruk. Lalu jalan dari rel kereta api Tugu hingga Toko Batik Terang Bulan dinamai Jalan Malioboro. Nama Malioboro sendiri, lanjut Cak Nun, berasal dari kata mali (wali) dan ngumboro (menyebar, menjelajah). “Layaknya wali, manusia harus menyebar nilai-nilai kebaikan itu sejauh mungkin,” katanya.


Sumber Teks: PRIBADI WICAKSONO dalam TEMPO.CO




Saturday, December 7, 2013

0 Maiyah - Belajar Takeran Rahmatan Lil ‘Alamin

Maiyah - Belajar Takeran Rahmatan lil ‘Alamin

Tema Maiyah Bangbang Wetan 31 Oktober 2012
========================================================================
Maiyah, Belajar Takeran Rahmatan lil ‘Alamin di blog Maiyah ini diposting oleh Horiq Sobarqah 4 Desember 2013. ( 5.0 )




Maiyah Bangbang Wetan

Maiyah - Belajar Takeran Rahmatan Lil ‘Alamin“Kamu pikir Allah hanya membuat kehidupan yang begini saja, ada beribu-ribu lapis dimensi kehidupan dengan teater dan skema keaktoran yang bermacam-macam yang kamu tidak mengerti takarannya. Maka bekal orang hidup adalah rendah hati bahwa sangat banyak yang tidak kamu ketahui dibanding yang kamu tahu”–Emha Ainun Najib-

Forum ­­­Bangbang Wetan dengan tema “Takeran” ini dibuka Mas Amin sebagai moderator dengan memanggil teman-teman pengurus BangbangWetan, diantaranya Mas Agung Trilaksono, Mas Hari Widodo, Mas Rachman, untuk memberi review pengajian Padhang mBulan yang berlangsung malam sebelumnya. Dilanjutkan dengan memaparkan pengantar mengenai tema yang diangkat BangbangWetan malam ini, yaitu "Takeran". Menurut Mas Hari, “takeran” disini berasal dari kata "menakar". Dia mencontohkan akhir-akhir ini banyak kejadian seperti kerusuhan Lampung, kasus Syiah di Sampang, dan lain-lain itu dikarenakan kurang tepatnya kita menakar persoalan.

Sesuai tema tadi,Mas Rachmad, sebagai moderator sesi diskusi selanjutnya, melanjutkan forum ini dengan memanggil Mas Waldo, salah satu sahabat Cak Nun dari Bali yang berpenampilan penuh tato dan tindik, seluruh badannya dipenuhi gelang, anting, dan asesoris lain sehingga terkesan seperti kepala suku Indian, dengan rambut gimbalnya. Mas Rachmad mengajak semua jamaah untuk tidak hanya melihat Waldo dari sisi fisik saja. Bagi pola pikir mainstream, tentu ini adalah hal yang aneh. Bahkan mungkin tidak bisa disangkal bagi banyak orang, bisa dikatakan“haram” dengan mas Waldo berpenampilans seperti ini. Mas Rachmad mengajak kita, dengan bermaiyah, kita berusaha meniati apa saja untuk menimba ilmu darimanapun dan kita buktikan mas Weldo malam ini membalik anggapan bahwa takaran kita terhadap manusia terhormat biasanya mereka yang memakai Jas, berpakaian rapi, takaran manusia ahli surga adalah mereka yang selalu mengenakan surban, celana cingkrang, atau mereka yang mempunyai stempel hitam di dahinya.
Mas Waldo mengawali dengan, "Assalamualaikum..yang kemudian mengajak Jamaah Maiyah untuk berpikir, “Coba pikirkan jika hidup tanpa nilai, biarkan ukuran nilai apa adanya. Kita pun sudah berlaku musyrik dalam hal bergaul, sebab kita bergaul dengan kepentingan. Shalat kita pun juga karena kepentingan. Berhala bukan musyrik. Musyrik itu perkara penilaian dan perbandingan. Manusia menjadi menderita karena terombang-ambing dengan kepentingan, sehingga nilai sesungguhnya telah hilang atau mati”, ujarnya.

Mas Waldo menguraikan bahwa kita semua kalau dilihat dari luar yang kelihatan hanya tubuh saja, padahal menurut mas Waldo, tubuh ini adalah sebuah kerajaan, yang tentu saja mempunyai Raja yang berkuasa. “Siapa raja penguasa yang berkuasa pada kerajaan kita, nafsumu atau ruhmu?”, tanya mas Waldo. “Anda tidur saya bangun, sedangkan anda bangunnya dalam mimpi, sehingga anda tidak bisa melihat saya bangun, tapi saya bisa melihat anda sedang tidur. Dan saya tidak bisa membangunkan anda tidur, apalagi kalau tidurnya itu sedang mimpi enak, kecuali kalau anda sudah mulai mimpi jelek, begitu anda sedang mimpi jelek, baru anda butuh seorang pembangun, seorang penggugah”.

Mas Waldo melanjutkan dengan pendapatnya mengenai perbedaan antara guru dan nabi. Tugas guru menurutnya adalah membangunkan orang-orang yang sudah seringkali mimpi buruk dalam hidupnya, bukan membangunkan orang yang sedang tidur nyenyak atau mimpi enak. Sedangkan tugas nabi adalah memasuki  kedalam mimpi orang-orang dan berkata “wahai manusia, kita semua masih dalam mimpi yang sementara, apapaun yang kamu dapatkan dalam mimpi akan sia-sia, sebab kebenaran hanya akan bisa kamu dapatkan kalau kamu sudah bangun. Dan bangun itulah akhirat, bangun itulah kenyataan yang sebenarnya”, jelas mas Waldo. Nah dari sini monggo kita periksa diri kita masing-masing apakah kita sudah bangun atau masih di dalam mimpi.

Menanggapi seorang yang bertanya mengenai ciuman tanpa kepentingan, mas Waldo merespon, kalau kita sedang berhadapan dengan telur, maka jangan lantas bayangkan ayam. “Kalau kita ingin menikmati apa saja, jauhkan dari nafsu, kepentingan itu wujud dari segala nafsu, orang yang hidup dalam nafsu tidak akan pernah bersyukur, dan tidak akan pernah bisa menikmati hidup apa adanya, kalau Anda belum paham ini mungkin masih perlu belajar 10 atau 100 tahun lagi. Untuk belajar kadang dibutuhkan cukup 2 menit saja, kadang 100 tahun pun belum tentu bisa, itu tergantung kita picek atau melek”, terang Mas Waldo.

Waktu Jeda, Mas Rachmad meminta mas Waldo untuk unjuk kebolehan vokalnya dengan berkolaborasi dengan group musikBananaTree, kali ini Mas Waldo melantunkan lagu Metallica yang berjudul Nothing Else Matter.

Pak Toto Rahardjo, salah satu narasumber Bangbangwetan malam ini memulai uraiannya, bahwa kita hidup dalam berbagai peradaban diantaranya peradaban hati, peradaban pikiran, peradaban perut, dan yang menguasai pertimbangan kita itu apa? Menurut pak Toto, problem kita sejak kecil sebenarnya, yang menjadi pertimbangan adalah materi, keserakahan ketidakpuasan, itulah kenapa banyak koruptor yang menawarkan diri menjadi pemimpin. Maiyah mecoba untuk melakukan pembelajaran yang lebih mendalam, tidak sekedar merespon situasi yang ada sekarang, karena kita tahu situasi yang terjadi sekarang adalah akibat dari penguasaan materi, semua dimaterikan, bahkan naik haji yang seharusnya bisa transendental pun malah jadi materi, bahkan Gusti Allah dijadikan materi. Pak Toto mengingatkan, dulu beliau pernah berkata bahwa orang maiyah wajib melakukan tafsir. Selama ini begitu kita mendengar tafsir, selalu kaitannya dengan Qur’an dan Hadist. Malam ini pak Toto mencabut pernyataan tersebut, karena menurut beliau, tafsir itu memilki tradisi, memiliki metode yang memang panjang. Jadi maiyah itu bukan tafsir, kecuali tafsir sehari-hari, sedangkan kalau untuk al-Qur’an dan hadist itu kita wajibnya adalah tadabbur, mengkaji dan merefleksikan. “Tafsir itu akan terkait dengan bahasa, ada metode yang harus dipertanggung jawabkan, dan  mulai saat ini saya cabut pernyataan itu”, jelas Pak Toto yang sebelumnya juga mengakui telah melakukan diskusi menganai hal ini dengan Ustad Nursamad Kamba dan Cak Fuad.

Pak Toto melanjutkan, “Bahwa Cak Nun pernah menjelaskan mengenaiilmu katon, itu sebetulnya tingkatnya pada tataran materi, dan inilah yang mempengaruhi peradaban pikir kita, bahkan peradaban batin pun dipengaruhi oleh material. Maka ukuran-ukurannya pun materi, misal berbuat baik bisa hanya karena pertimbangan materi. Dalam keseharian kita sangat dipengaruhi oleh takeran materi. Untuk menjadi pemimpin harus punya duit, filosofi tidak penting, visi tidak penting. Karena kita meletakkan diri sebagai majelis ilmu maka apa yang dikatakan mas Waldo malam ini, pasti kita akan ambil sebagai pendalaman ilmu malam ini, misal tadi bilang siapa yang menguasai kerajaan tubuh kita, materi atau ruh kita? Ini adalah bahasa tingkat tinggi yang perlu kita dalami maknanya”, ungkap Pak Toto.

Cak Priyo Aljabar menceritakan pengalamannya bertemu dengan berbagai komunitas atau simpul Maiyah di berbagai daerah. Cak Priyo menceritakan bahwa komunitas Maiyah yang ditemuinya bermacam-macam, diantaranya Komunitas yang mendalami kesenian sastra dan musik, ada juga simpul Maiyah yang menekuni urusan“bedah langit” dengan wirid dan istighosah,yakni Komunitas Tunggal Karep Tuban, simpul Maiyah di lereng gunung Penanggungan, dan sebagainya. Dengan bermacam-macam karakter yang ada, Cak Priyo berpesan, “Ojok ngadili gae ukuranmu, sesama siswa dilarang mengisi raport teman, Waldo punya karakter seperti itu dengan berbagai caranya, ya itu Maiyah, melingkar tidak ada yang di atas, tidak ada yang di bawah, tidak ada yang di depan belakang, rukun, semuanya sama. Kebersamaan ini yang sebetulnya ingin kita wujudkan” tegas Cak Priyo.
Selanjutnya Cak Priyo meminta group musik BananaTree untuk melantunkan lagu Bon Jovi terbaru yang berjudul Sewu Kutho, dengan aransemen bossanova disambut applaus Jamaah.

Tiba saatnya Cak Nun menyampaikan uraiannya dengan mengajak kita semua untuk mulai menakar apa saja yang kita peroleh dari diskusi malam ini. Cak Nun mulai menjelaskan mengenai kata Ngaji. Ngaji itu berasal dari kata aji, kemudian melahirkan 2 kata benda. yang satu “me-ngaji” yang kedua “men-kaji”. Kalau “meng-kaji” itu berarti dipersepsikan, ditaker, dianalisis, dihitung, dilakukan hipotesis, kemudian diambil kesimpulan. Sementara “me-Ngaji” tidak mengutamakan proses kognitif, proses deskriptif, perumusan, sistematika berpikir seperti halnya “meng-kaji”. “Meng-aji” itu fokus pada apa saja yang bisa meninggikan aji kita. Aji itu berasal dari kata Jawa, sedangkan kalau dalam bahasa Arab, bentuk dari kata Aji  ini di bagi dua, yaitu derajat dan martabat. Derajat adalah “ajine wong urip nang ngarepe wong sing gae urip”, sedangkan Martabat adalah “Ajine wong urip di antara sesamanya".

Berbeda dengan pendapat Mas Waldo tadi, menurut Cak Nun orang hidup itu  harus  punya kepentingan. Kepentingan itu berasal dari kata 'penting', itu wajib. Jadi pertama, harus bisa dibedakan, dalam hidup ini yang penting mana yang tidak penting mana. Yang kedua, penting untuk siapa, lebih baik mana pentingmu sendiri atau pentingnya orang banyak. Yang mana yang dinomorsatukan. Kita balik ke wacana Maiyah kita dulu, bahwa bener itu ada 3 macam, benernya sendiri, benernya orang banyak, benernya yang sejati. Benernya sendiri melahirkan egosentrsime, melahirkan egoisme kalau sudah berada dalam struktur kekuasaan akan melahirkan monopoli, melahirkan nepotisme, korupsi, melahirkan “tahlilan di pesantren maupun di tempat kiai”. Cak Nun menjelaskan Idiom “Tahlilan”, “Pesantren” “Kiai” sekarang dipakai oleh koruptor untuk mengaburkan istilah yang sebenarnya. Para koruptor sudah menggunakan ideom yang lebih Islami. Kata “Tahlilan” yang dimaksud adalah meeting atau pertemuan, “pesantren” adalah dinas atau kementrian yang mengeluarkan proyek  untuk dikorup, sementara “Kiai” adalah istilah untuk menyebut anggota DPR atau pejabat tertentu. Dengan cara seperti ini maka semakin mencairkan dan mengaburkan takeran  komunikasi, sehingga ketika kata “Tahlilan” ini disadap oleh KPK misalnya, maka itu tidak akan menjadi fakta hukum.


Jowo Digowo, Arab Digarap, Barat Diruwat.

Cak Nun menguraikan bahwa ada takeran bahasa sastra, takeran bahasa hukum, bahasa budaya, bahasa diplomasi, yang bermacam-macam takerannya. Apa yang dikatakan mas Waldo tadi sebenarnya adalah takeran pencarian diri yang sifatnya sufistik, maka jangan dipahami secara akademis. Ada takeran yang sangat baik untuk kita pelajari yang didapatkan dari Maiyahan Merapi beberapa waktu yang lalu, yakni Jowo Digowo, Arab Digarap, Barat Diruwat. ini tinggal dielaborasi secara ilmu. Kita lihat saja kebanyakan kita menjadi orang Indonesia yang tidak pernah membawa Jawa-mu (Jawa bukan dalam pengertian suku, Red), disentron dijadikan ejekan, cenderung meninggalkan kearifan yang baik dari Jawa.

Cak Nun melanjutkan uraiannya dengan bertanya pada Jamaah, “Kamu tahu Abu Jahal?”  Dia adalah paman sekaligus musuh Nabi. Kira-kira Dia itu menamakan dirinya sendiri seperti itu, apa orang Islam yang menyebut dirinya Abu jahal? Sekarang kalau aku menyebut diriku Abu Jahal itu baik apa tidak? Kalau aku memilih untuk merasa diriku buruk, itu apik ta elek? Kalau dalam bahasa jawa itu iso rumongso. Terus kalau aku ngarani awakku dewe koyok nabi, aku iku alim, sholeh, itu baik atau tidak? Jadi lebih baik mana, orang yang menyebut dirinya baik atau yang menyebut dirinya buruk?”, tanya Cak Nun, yang serentak dijawab jamaah dengan pilihan kedua. Nabi-nabi atau Rasul menyebut dirinya baik atau jelek? Semua Nabi menyebut dirinya dhalim, menyebut dirinya fakir. Nabi Muhammad hanya menyebut jabatan resmi dari Allah yakni sebagai utusan Allah, dan yang menyebut Nabi Muhammad itu nabi atau  rasul itu tidak lain adalah Allah sendiri, tidak mungkin Nabi menyebut dirinya sebagai nabi.

Mas Weldo pernah menyampaikan kepada Cak Nun di acara Maiyahan Bali, bahwa dengan ia berpakaian dan berpenampilan seperti ini maka tidak ada seorang pun yang berpikir bahwa ia punya kebaikan. “Kalau anda berpenampilan necis, memakai gamis, orang pasti akan berfikir bahwa ia orang alim, orang baik, tidak mungkin menipu, tidak mungkin manipulasi. Dan kalau ternyata orang yang berpakain sorban dan gamis yang indah itu ternyata bukan seperi disangka bahwa dia itu orang baik, maka yang terjadi adalah penipuan. Kalau aku menyebut diriku habib, sehingga orang menyangka sebagai keturunan Rasulullah itu kan merepotkan banyak orang, sehingga nanti akan banyak orang yang sibuk mencari, browsing di internet melacak silsilah saya, itu kan bikin repot. Makanya disini gak usah merepotkan, tinggal panggil Cak Nun saja sudah cukup, itu saja , tidak usah repot-repot dan itu tidak akan mengandung penipuan, kalau hanya panggilan Cak, itu kan sekedar keakraban biasa”, jelas Cak Nun disambut tepuk tangan jamaah.

“Makanya begitu sekarang ada yang menyebut saya lebih bahaya dari syiah, saya sangat berterima kasih. Orang yang menjahati kita adalah orang yang berjasa untuk mengambil kearifan diri kita untuk kita terapkan kepada orang yang menjahati kita itu. Jadi gak apa-apa, di Islam itu semua tidak ada masalah”, sambung Cak Nun. Bahkan Cak nun berharap, sekalian saja dianggap lebih berbahaya dari Iblis, karena sebenarnya Casting-nya Iblis sudah jelas dalam teater-nya Allah, tugasnya sudah jelas, dan kita tidak masalah dengan Iblis karena kita sudah punya takeran, Iblis juga punya takeran. Cak Nun menjelaskan bahwa rumusnya Iblis itu jelas, semua akan dirasuki, semua akan dimasuki ke dalam aliran darahnya kecuali orang yang ikhlas seperti Kanjeng Nabi.
Lebih dalam Cak Nun mengeksplorasi mas Waldo dengan menyebutnya sebagai monumen keyakinan. Mas Waldo membuktikan bahwa ia berani menanggung resiko yang sangat-sangat besar. Kita tidak tahu sholatnya bagaimana, jangan merasa menjadi petugas-nya Allah dengan menilai negatif terhadap penampilan mas Weldo. ”Sing nduwe iki sopo? Allah. Terus takeranmu dengan takeran Gusti Allah itu lebih tepat mana? Mau saingan sama Allah? padahal Allah itu punya takeran yang al-Lathief, sangat lembut. Kita kan materi yang kita lihat”

Tadi mas Waldo mengatakan, akherat itu kalau kita sudah bangun, Nabi itu tujuannya masuk dalam mimpinya orang. Dengan pernyataan tersebut Cak Nun berpesan bahwa itu jangan ditangkap sebagai nash, informasi resmi agama. Kalau dia mengatakan Nabi bertugas memasuki mimpi manusia, itu adalah bahasa rohani dan puisi dia, pahami bahasa puisi dan bahasa sastra. “Jamaah Maiyah itu sering bertemu saya melalui mimpi, hampir tiap hari mendaftar mimpi ketemu dengan disuruh begini, disuruh begitu, kalau kita terapkan pernyataan mas Weldo tadi berarti saya ini kan seorang Nabi?”, kata Cak Nun disambut tawa jamaah.

“Orang kok berhenti dan dipaku pada meteri, kamu pikir kalau orang sudah ruku’ sujud itu sudah dikatakan sembahyang? Kalau cuma pura-pura bagaimana? bagaimana caranya kamu bisa tahu dia itu sembahyang atau hanya pura-pura saja? Bisakah kamu menembus hatinya? Mengerti kamu niatnya? Lah kamu kok percaya kalau dia sembahyang atau tidak. Jadi letak takeran utama orang sholat itu bukan pada materi, meskipun tanda-tanda pengabdian kepada Allah antara lain melalaui fasilitas materi, tapi materi itu sendiri tidak bisa menjadi takeran”

Suatu ketika ada kiai dari Jawa Tengah, berkunjung dan sowan kepada Kiai Hamid Pasuruan, setelah sowan dan bermaksud pamit akan pulang, Kiai Hamid menitipkan salam ke kiai tadi untuk disampaikan kepada seorang gelandangan yang biasanya menempati perempatan di Pasar Kendal. Setelah pulang, Kiai tadi akhirnya bertemu dengan gelandangan yang dimaksud, disampaikanlah salam dari Kiai Hamid tadi. Kontan saja si gelandangan tadi langsung marah-marah dan berkata keras, “Hamid iku yo’opo, aku sengaja menyamar puluhan tahun kok, malah diumum-umumkan, kalau begitu caranya lebih baik aku mati saja”, saat itu juga orang yang biasa disebut “gelandangan” ini langsung mati ditempat seketika itu juga. Kesimpulannya, apakah ia disebut gelandangan atau bukan? Gelandangan itu kan perjanjian orang banyak mengenai suatu keadaan yang disebut gelandangan. Padahal ada banyak Waliyullah yang diperintah Allah untuk menyamar menjadi gelandangan.Kamu pikir Allah membuat kehidupan yang begini saja, ada beribu-ribu lapis dimensi kehidupan dengan teater dan skema keaktoran yang bermacam-macam yang kamu tidak mengerti takarannya. Maka bekal orang hidup adalah rendah hati bahwa sangat banyak yang tidak kamu ketahui dibanding yang kamu tahu”, tegas Cak Nun.

Merespon pertanyaan dari salah seorang jamaah mengenai “ciuman tanpa kepentingan” yang sempat disampaikan diawal, Cak Nun menjelaskan, “Hidup yang penting itu apa, fisiknya, ruhnya, muatannya atau apa? Maka ketika Anda sudah tua, istri anda juga sudah menua, Anda sudah tidak mendapatkan estetika dan kecantikan seperti 20 atau 30 tahun yang lalu, terus kepentinganmu apa ketika engkau tidur bersama istrimu? Maka kamu jangan mengabdi kepada istrimu, kamu jangan mengabdi kepada suamimu, kalian berdua mengabdi pada Allah-Mu, ketika engkau menyetubuhi istrimu bilang Ya Allah aku menggauli istriku karena aku rindu kepadaMu, karena aku rindu kepadaMU, ini untuk-Mu ya Allah. Karena kepentingan kita adalah hanya untuk Allah. Semua bahagia dan deritaku di dunia hanya untukMu ya Allah, tidak ada enak tidak ada tidak enak, semua kita lakukan Lillahi ta’ala.. Allahu Akbar.. Allahu Akbar.., wes engko bengi praktekno”, canda Cak Nun langsung disambut gemuruh jamaah.

Melanjutkan pembahasan yang tadi bahwa apapun yang datangnya dari Arab itu harus digarap, diramu dengan kebudayaan Jawa, bukan berarti Islam yang dijawakan, tapi aplikasikan dengan ramuan budaya meskipun ibadah mahdohnya sama, tapi ibadah muamalah nya beda. Misal budaya menyambut tamu, memuliakan orang tua di Arab dengan di Jawa itu beda. Ketika kita menghormati tamu demi mentaati Islam, yang kita bawa kesini bukan arabnya, tapi inti dari menghormati tamu itu kita cari dengan kebudayaan kita sendiri. Yang terjadi selama ini Arab tidak digarap, langsung diterapkan begitu saja, ditelan tanpa diracik, yang pinter ngaji ngenyek yang gak pinter ngaji, yang gak pinter ngaji cari alasan lain untuk ngeyek yang pinter ngaji. Di daerah Jawa Tengah kebanyakan orang melantunkan “alkamdulillahi rabbil ngaalamiin...” dinyek sama orang yang dari Jawa Timur yang bisa melafalkan huruf “Ain” dengan baik. Bilal, salah seorang sahabat yang sangat dicintai Rasulullah karena begitu kuat imannya, ketika ia adzan dan melantunkan “asyhadualla ilaaha illallaah..”, ia tidak bisa mengucapkan huruf “Syin”, lidahnya hanya bisa mengucapkan huruf “Sin”. Sahabat Nabi protes dengan keadaan itu. Nabi menjawab secara diplomatis, bahwa “Sin”-nya Bilal itu “Syin”. Singkat namun tegas. Sebagaimana dulu pernah kita membahas mengenai bunyi atau suara kokok ayam. Bagi orang Jawa,  kokok ayam disebut “kukuruyuk”, sementara “kukuruyuk”nya orang Sunda adalah “kokorongkong”, dan “kongkorongkong”-nya orang Madura adalah “Kukkurunnuk”.

Dengan cara diplomasi Rasulullah tadi, Cak Nun mengajak kita untuk mencari kearifan Rasulullah, kesantunannya, tingkat keilmuannya, silakan cari sebanyak-banyaknya, supaya kita mempunyai kearifan dan kesantunan, tidak gampang menghujat orang lain. Dulu ulama hanya berjumlah 9 orang yang kita kenal sebagai Walisongo, mengislamkan berjuta-juta orang. Sekarang Ulama-ulama pekerjaannya kebanyakan adalah mengeluarkan orang islam dari Islam. Kita lihat saat ini betapa seringnya ulama bilang “kafir itu”, “bid’ah itu”, “sesat itu, “halal darahnya itu”.
Mengenai fatwa “halal darahnya”, Cak Nun menanggapi secara retoris, kalau memang ada fatwa seperti itu sebaiknya segera bunuh saja, jika cuma sekedar berfatwa “halal darahnya” tapi tidak pernah dilaksanakan dengan membunuhnya, maka Allah akan Marah : "Kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan" (QS. Ash Shaff 61: 2-3).
"Maka kita mengharapkan dan merekomendasikan para Ulama yang memfatwkan kepada golongan orang-orang yang “halal darahnya” segeralah bunuh mereka, tak tunjukkan siapa saja yang halal darahnya itu, Kabeh kok dadi Gusti Allah”, sindir Cak Nun.

Disampaikan oleh Cak Nun, ada tingkatan-tingkatan “Takaran” yang harus diperhatikan :
  1. Tingkatan terendah yakni Walayathul Khowas, menyangkut dimensi pada wilayah fisik atau materi, atau bisa disebut ilmu katon. 
  2. Diatas khowas, ada Walayatul Hifdzi, menyangkut ilmu katon namun tidak terlihat, seperti halnya  RAM/memori. Kaitannya dengan masalah IT, komputer, teknologi digital, dsb.
  3. Walayatul Khoyal (hardware atau Khowas tadi dan Hifdz/software tadi disimulasikan, dianimasikan dengan khayalan imajinasi dan aspirasi otak dan rohani manusia. Industri atau kapitalisme mengabdi kepada Khowas/materi, termasuk juga wilayah Hifdzi, Wilayah Khoyal ternyata juga diabdian kepada khowas. Bahkan sekarang semua ke khowas, termasuk juga agama, Alqur’an, Kiai, Habib, Gus, semua mengabdi kepada khowas. Di tiga wilayah ini (Khowas, Hifdzi, Khoyal) kita sudah terbiasa kalah. Kebanyakan orang tidak punya kecenderungan untuk menguasai ditiga wilayah ini.
  4. Walayatul Fikr, wilayah filosofi dan pemikiran.
  5. Walayatul Fa'al, sebagai tingkatan paling atas/tertinggi.
Orang Jawa tidak mau dan tidak punya kecenderungan untuk berkecimpung ditiga wilayah ilmu katon ini, bagi orang Indonesia ilmu katon ini cuma dibuat mainan. Misal (untuk ilmu katon), “kamu kok pilih presiden SBY?”  Bagi orang Indonesia memilih SBY itu bukan peristiwa politik. “Kamu kok mau disogok 50 ribu rupiah menjual kedaulatan untuk milih bupati yang nyogok kamu?" Orang Indonesia tidak bisa menjelaskan, tapi yang terjadi pada mereka adalah mereka bukan menjual kedaulatan, mereka dapat uang 50 ribu rupiah diterima, suruh mencoblos ya nyoblos, tidak ada urusannya sama kedaulatan. Orang Indonesia itu kedaulatan opo iku gak mikir, pancasila itu benar enggak yo babbah, negara Indonesia itu ada atau tidak ada itu podo ae, pemerintahnya siapa saja gak ono bedane, Presiden ganti sehari empat kali yo monggo. Jadi tidak ada perisiwa politik, orang indonesia tidak punya keseriusan disitu.

“Orang Indonesia adalah penghuni di wilayah tertinggi, Walayatul Fa’al, mereka menunujukkan kehebatan tidak didalam pertandingan, tapi menunjukkan kehebatan dalam kehidupan. Kita tidak hebat dalam pertandingan, karena kehebatan kita itu otomatis kita langsungkan dalam kehidupan. Mereka tidak pernah ikut pertandingan balap F1, tapi kalau mau beneran balapan, silakan datang kesini untuk nyopir Bus di Pantura dengan Bus Sumber Kencono kalau berani?”, tantang Cak Nun.

Kalau misalkan berlangsung  perang secara resmi, kita tidak pernah bisa serius, tentara kita tidak punya peluru yang cukup untuk sekedar latihan. Tapi kalau tawur, siapa yang lebih berani dari kita? Kita adalah jagoannya. Dimana-mana tidak ada yang mempunyai budaya tawur seperti di negara kita, paling mentok tawur antara buruh melawan polisi. Kalau disini, sesama pengurus masjid, sesama Islam, sesama pelajar, sesama mahasiswa saja tawuran. “Tawur kan sahabat kita sehari-hari”, kata Cak Nun, “Anak SMA kok dilarang tawur, terus dikonkon lapo? Tawur adalah pertentangan yang tidak ditata. Apakah pertentangan antar Parpol itu tertata tidak secara ilmu dan sosiologi? Apakah pertentangan antara Anas dan SBY tertata tidak secara manajemen konstitusi kita? Sing gak tawur iku sopo? Semuanya tawur. Dalam beragama kita tawur, takarannya juga terkadang ngawur, dengan gampang menyesatkan orang lain”.

Ilmu yang diberlakukan di Indonesia itu adalah ilmunya orang-orang Amerika yang tidak punya pengalaman hidup seperti orang Indonesia, mereka tidak punya keberanian hidup sebagaimana keberanian orang-orang Indonesia. Mereka adalah orang yang tidak pernah hancur, sebagaimana kita hancur dan tidak hancur oleh kehancuran itu. Mereka adalah orang yang tidak berani kawin tanpa pekerjaan, sebagaimana anda kawin tanpa pekerjaan. Mereka tidak punya “bismillah” yang di Indonesia itu modal utama. Jadi Indonesia itu adalah champion of life. Kita itu penduduk dari Wilayatul Fa’al, berasal dari Fa’alul lima yurid, Allah itu Maha Bekerja, Maha Hidup dan Menghidupi, jadi orang indonesia adalah juara di dalam hidupnya. Kita bukan juara di turnamen-turnamen. Begitu juga ini acara Maiyahan seperti ini kan sebenarnya juara. Mana ada di seluruh dunia ada acara sampai jam 3 pagi, orang duduk tenang, ikhlas gembira. “Maka ini adalah intinya Indonesia, yang bahkan media koran-koran sekitar sini tidak kenal Anda. Karena Anda adalah Indonesianya Indonesia, yang paling Indonesia dari Indonesia, juara luar biasa”, tegas Cak Nun, “Kita ini juara dalam kehidupan, syaratnya satu, jangan mengungguli mereka, biarkan mereka merasa unggul, karena mereka memang tidak unggul, sehingga kita harus besarkan hatinya dengan berpura-pura menganggap mereka unggul. Anda melihat Indonesia yang harus anda tolong, harus Anda sayangi, Harus Anda besarkan hatinya, Anda yang akan memandu mereka,  memimpin, menyelamatkan mereka semua”.

Takeran Ilmu Kesehatan

Hadir juga sebagai nara sumber malam ini adalah dr. Ananto, sebagai seorang dokter beliau menanggapi uraian tadi dengan mengatakan bahwa “takeran” dalam ilmu kedokteran itu disebut dosis, maka untuk tahu dosis dibutuhkan kajian yang cukup mendalam. Seperti halnya dosis 3x1 itu sebetulnya berlaku untuk orang yang berat badannya 60 kg. Untuk orang yang berat badannya diatas 60 kg dosisnya tentu beda lagi. “Karena tiap orang berbeda, maka saya harus berhati-hati dengan dosis/takeran di masa mendatang.Ternyata untuk raga pun butuh takaran yang pas. Dan setiap orang berbeda satu sama lain” jelas pak dokter.

Cak Nun menambahi apa yang disampaikan dr. Ananto tadi dan berharap nantinya akan ada hal yang perlu disalahkan atau dibenarkan. Dalam pemahaman post modern, sesudah memuncaknya ilmu pengetahuan termasuk ilmu kedokteran, filosofi dasar ilmu kesehatan bahwa dokter adalah setiap orang atas dirinya sendiri. Dokter secara resmi, adalah asisten setiap orang yang diminta konsultasi mengenai beberapa hal. Tapi yang menakar dirinya adalah setiap orang itu sendiri, karena dokter itu dzonni, menduga-duga pada setiap orang. Dia tidak qoth’i atau pasti. Menurut Cak Nun, yang bisa qoth’i adalah diri kita sendiri, minum obat perlu tidaknya hanya kita sendiri yang tahu. Kedokteran secara ilmu itu cuma sekian persen, sementara dzonni-nya mungkin lebih besar. Maka dokter harus punya kerendahan hati dan kejujuran pada pasiennya, dan itu sulit kalau kedokteran sudah menjadi bagian dari walayatul khowas, menjadi bagian dari materialisme yang melahirkan kapitalisme dan industri. “Kalau kesehatan sudah menjadi industri, maka dokter akan menjadi alat industri yang memperbanyak orang sakit sehingga pendapatannya meningkat. Itu tidak terjadi kalau kedokteran itu adalah urusan moral. Mengobati orang itu cinta kasih dan moralitas antar sesama manusia. Bahwa yang diobati akan beterima kasih, itu soal moral yang lain yang mengakibatkan penambahan ekonomi bagi si dokter”, jelas Cak Nun.

Cak Nun menceritakan, menurut dokter yang pernah memeriksanya, secara resmi sebenarnya Cak Nun telah terjangkit kolesterol tinggi. Cak Nun bertanya pada dr. Ananto, gejala kolesterol tinggi itu seperti apa? Dokter Ananto menjawab, orang dengan kolesterol tinggi itu biasanya mempunyai badan yang cepet capek, tidak fit, ada beberapa sedikit rasa nyeri. Cak Nun menanggapi, berarti kolesterolnya agak aneh, malah sehat bener, gak penah ngantuk, gak pernah capek, menempuh perjalanan naik bus 13 jam tidak ada masalah, hampir tiap malem Maiyahan sampai menjelang pagi tidak ada masalah. “Iki kolesterol cap opo ngene iki”, kata Cak Nun dengan nada heran. “Saya cuma ingin mengatakan kepada anda semua, Yuk kita menjadi dokter bagi diri sendiri. Jangan main-main dengan takerannya hidup, Allah memberi contoh air zam-zam. Air biasa tapi diperkenankan dan diperintah Allah untuk menyembuhkan orang yang meminumnya sesuai dengan yang diinginkannnya. Manusia khalifahnya, obat adalah karyawannya, meskipun juga jangan sampai ngawur. Tetep dalam takeran yang rasionalitas, dan anda harus rasional pada diri anda, tidak boleh ada sedikit aus pada dirimu, jangan sampai dirimu mengalami proses perapuhan, ini yang terjadi pada manusia modern. Jangan sampai rapuh, yang pertama rapuh pikiranmu, kalau sudah pikiranmu rapuh, maka rapuh juga hatimu, sel-selmu rapuh, adrenalinmu tidak muncul, semangat dan gairahmu tidak muncul, maka kamu akan mengalami perapuhan jasad”, jelas Cak Nun, “Pak dokter ini bener apa tidak?”, tanya cak Nun pada dr. Ananto, beliau menjawab, “Insya Allah benar Cak, sami’na waatho’na”.

Pak Toto Rahardjo merangkum semua yang dibahas dengan menambahkan catatan penting bahwa diluar takaran yang baik itu, selalu terjadi dominasi. Sejak dari tahap yang paling bawah, materi, memori imajinasi, tahap-tahap ini sangat didominasi oleh peradaban materi.

Di akhir pembahasan Cak Nun mengingatkan khusus untuk Jamaah Maiyah untuk setidaknya mengingat-ingat urutan judul tulisan beliau yang baru-baru ini muncul di media cetak, yakni  secara berurutan : “Allah 2014”, “Nasionalisasi Indonesia”, “Presiden”, “Para Kekasih Iblis”, dan selanjutnya yang akan segera terbit adalah “Persemakmuran Nusantara”. Silakan dipikir sendiri, direnungkan, tidak perlu dibaca isinya secara keseluruhan, kenapa urut-urutannya bisa seperti itu, semoga bisa dipahami maksudnya.

Sebelum melantunkan sholawat bersama-sama, Cak Nun mengingatkan teman-teman yang beragama selain Islam, mohon percaya dan yakin untuk merasa aman kepada kita sebagai  orang Islam, kalau kita melakukan ini, berarti ini adalah ekspresi dari ideologi rahmatal lil alamin, saling menyelamatkan satu sama lain, dan tidak saling menghakimi yang Allah sendiri punya hak menghakimi  kita. Cak Nun mengutip pernyataan Gus Dur, bahwa “NU itu adalah Syiah tanpa Imamah". Jadi kalau ada yang khawatir akan ada eksport revolusi syiah di Indonesia itu, saya yakin itu tidak akan terjadi mergo wong Jowo tidak mungkin punya Imamah. Mesti imamme diapusi sama makmumnya, wong Jowo sanggup memimpin dirinya sendiri sehingga tidak perlu imamah seperti halnya di Iran, wong Jowo sangat mandiri.

Informasi kedua, bulan depan kita harapkan sudah bisa melahirkan satu tradisi baru tanpa menafikan tradisi yang sudah ada, yakni sholawat maulid untuk puji-pujian ulang tahun Kanjeng Nabi SAW. “Kita akan bikin sholawat Maulidin Nur, yang kita sholawati adalah Nur Muhammad. Nur Muhammad adalah makhluk Allah yang pertama, yang kemudian ditugasi Allah untuk menjadi A menjadi B, menjadi C, salah satu episodenya Nur ini ditugasi, dikasih casting untuk menjadi Muhammad bin Abdullah yang berlaku hanya 63 tahun. Padahal Allah menciptakan waktu sangat panjang, dan saat ini Rasulullah sedang bertugas di tempat lain, di planet lain, di galaksi lain, tidak sebagai Muhammad bin Abdullah, tapi dengan tata cara dan budaya di sana. Rasulullah tidak pernah berhenti bertugas, Rasulullah bukan meninggal pada tanggal 12 Rabiul Awal sebagaimana yang kita tahu.Yang dimaksud Rasullulah meninggal adalah berakhirnya penugasan Nur Muhammad sebagai Muhammad bin Abdullah dimuka bumi, setelah itu dan sebelumya, Rasulullah sudah dan akan bertugas di tempat lain karena Allah menciptakan alam semesta yang sangat luas dengan makhluk-Nya yang bermacam-macam. Makhluk yang diciptakan pertama kali adalah Nur Muhammad dan karena Allah bahagia menciptakan Nur Muhammad ini maka Allah kemudian menciptakan seluruh jagat raya alam semesta dan makhluk-makhluk berikutnya. Nanti mungkin akan ada perkembangan dunia sholawat yang luar biasa di Indonesia dan itu tidak dilakukan oleh masyarakat Islam di dunia manapun. Mudah-mudahan ini merupakan tanda bahwa umat Islam di Indonesia dititipi Allah kebangkitan Islam di masa yang akan datang. Kebangkitan Islam bukan kebangkitan yang menindas umat lain, tapi yang mengayomi umat lain ”Kita akan menciptkan tradisi sholawat Maulidun Nur, bukan untuk menyaingi siapa-siapa, ini Mamayu Hayuning Bawono, menambah keindahan Islam, manambah keindahan kehidupan.

Terakhir pesan Cak Nun, “Seluruh pembicaraan mengenai Takeran ini terletak pada fatwa utama Cak Fuad tadi malam di PadhangmBulan, bahwa Jamaah Miayah mulai hari ini mohon dengan sangat untuk lebih melakukan kehati-hatian dan pemikiran, penghitungan kembali ketika menyebut atau melakukan pemahaman terhadap sejumlah idiom atau istilah yang penting. Kalau kamu dengar kata kiai, pikirkan lagi, kiai itu apa, begitu juga kata ustadz silakan dipikir ulang ustadz itu harusnya bagaimana, siapa dia, tugasya apa, dari mana asal-usulnya, jangan gampang-gampang meng-ustadkan orang, jangan gampang-gampang tidak meng-ustadkan orang, begitu juga Gus, Kiai, Habib, Mursyid, Ulama, itu dipikir kembali. Kalau Cak tidak masalah. Tolong ambil jarak epistimologis dari setiap idiom-idiom yang saat ini sudah kehilangan takeran di masyarakat. Karena selama ini yang menciptakan takeran bukanlah orang yang berhak menciptakan takeran, misalnya siapa yang mengakui seseorang menjadi kiai atau bukan, seharusnya yang mengakui adalah umatnya. Siapakah yang mengijinkan seseorang menjadi imam, tidak lain adalah makmummya. Nah selama ini karena ada industrialisasi dan kapitalisme maka yang menentukan siapa ulama atau bukan itu bukan umat, tetapi pemerintah dan industri. Mudah-mudahan setelah pulang dari sini, anda bisa lebih cerdas, lebih santun, lebih lapang, sebisa mungkin hindari perdebatan, kalau perdebatan membawa manfaat silakan diteruskan, tapi kalau tidak hentikan saja”.

“Umur rata-rata orang Indonesia adalah seumuran anda, yakni 27,5 tahun, sehingga anda sebagai mayoritas penduduk Indonesia, dan anda adalah orang yang akan harus kerja keras setelah 2015, kerja keras dalam arti anda yang memimpin kematangan di Indonesia, yang akan menjadi tanah-tanah perdikan yang luar biasa makmurnya, membikin mercusuar untuk seluaruh dunia, dan Islamnya adalah Islam yang diidamkan-idamkan oleh semua manusia di dunia, adalah Islam yang diolah, digarap, dan diruwat oleh Islamnya Indonesia”.

Hasbnaaall wani’mal wakil, Ni’mal maula wani’man Nashiir.

artikel terkait : Belajar Takeran Rahmatan Lil ‘Alamin

Belajar Takeran Rahmatan Lil ‘Alamin

Tuesday, November 19, 2013

0 Maiyah - Mendirikan Indonesia


Kenduri Cinta 13 Juli 2012 berjudul "Mendirikan Indonesia"

Maiyah - Mendirikan Indonesia, Maiyah - Mendirikan Indonesia di blog Maiyah ini diposting oleh Horiq Sobarqah 19 November 2013. ( 5.0 )

Mendirikan Indonesia - Kenduri Cinta 13 Juli 2012

Maiyah - Mendirikan Indonesia, Pada acara Kenduri Cinta pada tanggal 13 Juli 2012 di Jakarta mengambil tema “MENDIRIKAN INDONESIA”. Menurut Sabrang (Noe) Vokalis band Letto di acara Kenduri Cinta bulan juni 2013, dia mengatakan bahwa masa depan yang paling layak untuk dilukis adalah Surga, Paradise dalam Bahasa Inggris-nya. Menggunakan othak athik gathuk, paradise diidentikan dengan frasa para_desa (desa-desa di tempat tinggi). Desa dimana orang-orangnya masih peduli sama tetangga, masih ada gotong royong, ada rempug desa untuk memikirkan masa depan bersama, menomor-satukan kebersamaan dan tidak gampang tega. Jadi untuk melukis surga/para_desa di akhirat,  Sabrang mengajak kita untuk melukis Desa disini dalam kehidupan kita sehari-hari.

Dalam literatur arab desa  sering dikatakan sebagai Qoryah ( قرية ), dan penduduk nya disebut sebagaiahlul Quro (أهل القري) atau ummul Quro (أم القري). Dalam Al-Quran, Ummul Qura disebutkan sebagai gambaran orang-orang Quraisy Makkah. Makkah adalah pusat persaingan dagang dan transaksi komersial. Keadaan ini menjadikan Makkah sebagai pusat kapitalisme, hal ini akibat dari proses korporasi antar Klan yang menguasai dan memonopoli perdagangan kawasan Bizantium. Watak ekstrim kapitalis Quraisy yang mengakumulasikan kekayaan dan memutarnya demi keuntungan individu dan korporasi-nya melahirkan ketimpangan dan kesenjangan sosial di Makkah. Ini sangat kontras dengan gambaran desa, para_desa. Dan memang Makkah lebih sering disebut sebagai sebuah Kota ketimbang sebagai sebuah Desa.

Desa di sekitar lereng Merapi berada di tempat-tempat tinggi, berbeda dengan Makkah. Awalnya, warga desa tidak membolehkan siapapun dari luar daerah datang memasuki ujung desa setelah ‘musibah’ melanda. Orang-orang kota datang hanya berwisata, melihat-lihat bekas rumah-rumah mereka yang hancur, sisa-sisa batang pohon yang mengering hangus diterjang hawa panas. Desa yang luluh lantak digerus lahar, menyisakan puing puing terkubur pasir. Setiap orang yang menyaksikan itu seakan bertanya “Apakah kiamat pernah terjadi disini?” Merapi tidak menjawab, namun seiring waktu tumbuhlah harapan baru didalam dada warga bersama tunas tunas pohon yang menghijau. Mungkin kesedihan mereka telah lenyap oleh kesuburan tanah yang meningkat drastis pasca erupsi dan berkah berupa gundukan pasir-pasir merapi yang berkualitas tinggi yang melimpah, bagaikan panen raya. Dan mereka menjadi suatu kaum yang baru setelah menjalani proses kematian. Jika ditelususri, kata ‘Kaum’ seakar dengan kata ‘Kiamat’ yang berarti berdiri dan bangkit.

Dari ilustrasi-ilustrasi diatas, nampak bahwa desa tidaklah sekedar keberadaan georafis, penduduk, pemerintahan dan adanya pengakuan dari luar. Namun apa yang mendasarinya? Apa yang menjadi landasan_berdiri kehidupan sosialnya? Seperti halnya Negara, kalaulah faktor landasan_berdiri bernegara adalah politik, kita sudah tidak menemukan diri kita sendiri dalam sistem berpolitik di Indonesia. Melainkan didikte paksa dari luar diri kita sendiri, kita sadari atupun tidak. Padahal, berdiri adalah menjadi diri sendiri. Jika faktor landasan bernegara adalah budaya, budaya sudah sedemikian abu-abu, mana wujud budaya sendiri atau dari luar sudah tidak dapat dibedakan. Apalagi faktor ekonomi,  merupakan mimpi kosong jika mengatakan bahwa mampu bangkit berlandaskan ekonomi untuk kebangkitan negara. Kebangkitan ekonomi sekarang adalah berdirinya sebagian kecil warga diatas keterpurukan panjang sebagian besar warga lainnya. Apakah proses kiamat sedang berlangsung saat ini? Seperti halnya Al-Quran menggambarkan, bahwa ketika terjadinya Kiamat maka setiap orang tidak lagi memikirkan anak, saudara, teman dan kerabat, mereka hanya memikirkan nasib diri sendiri. Kalau dipakai kerangka ini maka wujud kehidupan sosial yang dilandasi kapitalisme adalah peristiwa menjelang kiamat besar itu.

Kesadaran terhadap keadaan sosial itu, mendorong individu-individu untuk dapat berhijrah. Sebagaimana dicontohkan Rasulullah dengan berhijrah dari Makkah ke Yasrib(Madinah). Setelah mengalami penolakan keras dari Quraisy Makkah yang orientasi_hidupnya ekstrim kapitalis, di Yasrib justru Akhlaq Muhammad bin Abdullah kongkrit menjadi senyawa kehidupan sosial kaum Anshor dan Muhajirin. Sehingga terwujud hubungan individu dengan dirinya sendiri, indvidu dengan sesama, individu dengan keluarga, individu dengan komunitasnya dan seterusnya secara benar,baik dan indah di ‘Desa’ Madinah.

Hal menarik juga disampaikan oleh Yai Toto Raharjo dan Syech Nursamad pada KC Juni 2012, mengenai peristiwa Rasulullah SAW yang mengubah arah Kiblat (Al-Baqarah 142-144). “Perubahan kiblat itu – apakah Nabi Muhammad sudah punya sensitivitas politik atau apa? Bagi saya, orang perdesaan yang berusaha untuk selalu berjuang, perubahan kiblat merupakan peristiwa. Ini bisa juga menyangkut strategi, simbol, arah.” Bahwa saat ini peradaban berkiblat pada Barat dan Arab yang orientasi_hidupnya ekstrim kapitalis dalam berbagai bidang ideologi, politik dan ekonomi . Ini sangat jauh beda dengan Rosululloh SAW yang berorientasi_hidup  sejahtera, bahagia, saling menghormati dan hidup patut dalam ummatan wasathon, masyarakat penengah dalam bidang ideologi, politik dan ekonomi .

Tema terbesar Kenduri Cinta selama ini adalahMenegakkan Cinta Menuju Indonesia Mulia. Sebagaimana simpul-simpul Maiyah yang ada, cinta ditegakan bersama-sama tidak sekedar pada saat acara bulanan berlangsung, namun Orang-orang Maiyah senantiasa menegakkan cinta pada kehidupan kesehariannya, dalam keluarga, bertetangga, lingkungan kerja dan juga dalam hidup berbangsa. 12 tahun perjalanan KC, bukan suatu kurun yang pendek bagi sebuah komunitas non-profit oriented. Sesuai tema besar, Menegakkan Cinta bagi KC adalah gerakan Maiyah, dan Menuju Indonesia Mulia dapat dikatakan sementara ini sebagai kiblat-nya, meskipun itu semua tidak dianggap apapun oleh Indonesia.

 ……“Wahai Indonesia, kamu tidak usah menghisabku, karena aku juga tidak menghisabmu. Kamu tidak usah menghitung Kenduri Cinta, karena bagi Kenduri Cinta, kamu juga juga tidak terhitung sama sekali. Karena ada sesuatu yang lebih besar yang akan terjadi. Dimana Indonesia hanya menjadi bagian kecil dari pengembaraan jauh dan besar itu.”……. (Muhammad Ainun Nadjib, KCApril2012)

Pada KC 13 Juli 2012, dengan tema “MENDIRIKAN INDONESIA”, Indonesia disini bukan sekedar Negara, Indonesia bukan sekedar pengakuan wilayah geografis, adanya penduduk dan pemerintahan. Indonesia disini termasuk bangsa, bahasa, tanah-air disertai dengan rentetan sejarah panjang orientasi kehidupan sosial dan cita-cita pendiri(penduduk?)-nya.

 …….Jikalau saya peras yang lima menjadi tiga, dan yang tiga menjadi satu, maka dapatlah saya satu perkataan Indonesia yang tulen, yaitu perkataan “gotong - royong“
Negara Indonesia yang kita dirikan haruslah negara gotong - royong!
Alangkah hebatnya! Negara Gotong Royong!....... ( Ir.Soekaro, 1 Juni 1945)

MENDIRIKAN dapat dimaknai sebagai menDIRIkan, Mendirikan atau men-dirikan. KC memilih tema ini supaya kita yang selama ini enak duduk sudi beranjak berdiri. Mungkin kita yang lupa istilah gotong-royong dapat ingat lagi, syukur mau gotong-royong. Kalaupun Indonesia malah gak mau gotong-royong, atau justru makin seneng saling mengkalahkan. Ya kita-kita saja yang gotong royong, meskipun tanpa istilah gotong royong.


artikel terkait Kenduri Cinta 

Maiyah - Mendirikan Indonesia

Monday, November 18, 2013

0 Maiyah - Thomas Alfa Edison

Maiyah - Thomas Alfa Edison

Maiyah - Thomas Alfa Edison, Maiyah - Thomas Alfa Edison di blog Maiyah ini diposting oleh Horiq Sobarqah 18 November 2013. ( 5.0 )


http://mocopatsyafaat.blogspot.com/2013/11/maiyah-ruang-lingkup-maiyah.html


Maiyah - Thomas Alfa Edison, Pada masa kecilnya, Edison adalah anak dengan rasa keingin-tahuan yang tinggi. Namun dia adalah seorang pelajar yang tidak baik karena pikirannya sering melamun. Anak bungsu 7 bersaudara ini, dianggap "otak udang" oleh guru sekolahnya. Ketika ibunya tahu, ia sangat marah dan menariknya untuk keluar sekolah. Pada saat itu, Edison baru bersekolah selama 3 bulan. Setelah itu, ibu Edison sendiri yang mengajarinya di rumah. 

Pada saat Edison beranjak 9 tahun, ibunya memberikan buku ilmiah tingkat sekolah dasar kepadanya. Buku itu adalah mengenai bagaimana melakukan eksperimen kimia di rumah. Edison terpancing: ia melakukan beberapa eksperi­men dari buku itu dan menghabiskan uangnya untuk membeli bahan - bahan kimia. 

Pada saat berusia 10 tahun, Edison membangun lab pertamanya di kamar bawah tanah rumahnya. Biasanya ayahnya akan "menyuapnya" dengan sedikit uang agar Edison meninggalkan basement dan pergi membaca buku. Edison tentu saja menurut, tetapi ia juga menggunakan uang "suapan" ayahnya itu untuk membeli bahan - bahan kimia untuk eksperimennya. 

Pada saat berumur 12 tahun, Edison mulai kehilangan pendengarannya. Ada yang mengatakan bahwa ada konduktor kereta api yang memukul telinganya ketika ia menyalakan api pada saat sedang bereksperimen di gerbong barang. Menurut Edison, ia terluka ketika konduktor tersebut menariknya ke kereta yang bergerak dengan menarik kupingnya. Ada juga yang mengatakan penyebab gangguan pendengarannya itu adalah karena demam yang didapatnya semasa kecil. Namun juga sangat memungkinkan bahwa ia tuli karena faktor genetik, ayah dan salah seorang kakak Edison juga tuli. 

Tetapi satu hal yang pasti; Edison menyukai keadaanya (secara teknis dia tidak tuli total, tetapi sulit untuk mendengar). la mengatakan bahwa keadaannya itu membuatnya lebih dapat berkonsentrasi pada eksperimennya. Dan satu hal lagi: Edison memang memiliki lab di dalam gerbong kereta api yang akhirnya terbakar! Edison yang saat itu berusia 12 tahun kemudian bekerja dengan menjual koran dan permen. Dia membuat lab untuk eksperimen kimia dan percetakan di dalam bagasi mobil, dimana ia mempu-blikasikan Grand Trunk Herald, koran pertama yang dipublikasikan di atas kereta. 

Di usia 14 tahun, Edison menyelamatkan Jimmie MacKenzie yang berumur 3 tahun dari gerbong kereta api yang sedang melaju cepat. Ayah Jimmie, agen stasiun bernama JU MacKenzie sangat berterima kasih sehingga dia mengajarkan Edison cara menggunakan mesin telegraph. Setelah itu Edison menjadi operator telegraph untuk Western Union. Dia meminta bekerja shift malam agar dia masih memiliki waktu untuk melakukan eksperimen. Suatu hari ia tidak sengaja menumpahkan asam sulfur ketika sedang melakukan eksperimen dengan baterai. Cairan asam tersebut menembus lantai kayu dan sampai di meja atasannya di lantai bawah. Keesokan harinya, Edison dipecat. 

Pada tahun 1869, Edison di usianya yang ke 22, mendapatkan paten pertamanya untuk mesin perekam suara telegrafik {telegraphic vote-recording machine) untuk badan legislatif. Pada saat rekan bisnisnya membawa penemuan tersebut ke Washington DC, ketua komite yang tidak terkesan dengan kecepatan alat itu melakukan rekaman mengatakan "apabila ada penemuan yang tidak kita inginkan di muka bumi ini, inilah penemuan itu." Sejak saat itu Edison memutuskan ia hanya akan menciptakan penemuan yang dapat dijual. 

Pada Natal tahun 1871, di usianya yang ke 24 Edison menikahi pegawainya, Mary Stilwell (16 tahun) setelah 2 bulan berkenalan. Pada bulan Februari Edison gusar akan ketidak mampuan istrinya untuk menciptakan sesuatu. la kemudian menulis di atas buku hariannya "Mary Edison istriku tercinta tidak mampu menciptakan sesuatu apapun yang bernilai!" Mary melahirkan 3 orang anak, Edison memberikan panggilan "Dot" dan "Dash" untuk anak pertama dan keduanya (kemungkinan diambil dari sandi mere)

Dua tahun setelah Mary meninggal, Edison J menikahi Mina Miller yang saat itu berusia 201 tahun. Kisah pertemuannya sangat menarik setelah kematian Mary, Edison sering pergi kej Boston dan tinggal di rumah temannya, Mr. dan Mrs. Gilliards. Keluarga Gilliards berusahai mengenalkan Edison kepada beberapa orang! gadis. Namun dengan penampilannya yang setengah tuli, mata yang melotot, nafas bau dan ketombean yang selalu mendekatkan wajahnya kepada gadis - gadis itu agar ia bisa mendengar suaranya dengan jelas, seluruh gadis itu lari ketakutan!   Suatu   hari   keluarga   Gilliards memperkenalkan Edison kepada Mina Miller. Edison langsung jatuh hati. Menurut kebijakan 1911 mengenai perusahaan asuransi jiwa di New York, Edison memiliki; lima titik yang ditato di iengan kanannya. Tidak. ada yang tau apa maksud tato tersebut. Yang cukup menarik, Edison mendapatkan penghargaan atas penemuan mesin tato yang pertama. 

Setelah Wilhelm Conrad Rontgen menemukan X-ray pada tahun 1895, Edison mengarahkan karyawannya, seorang bernama Clarence Dally untuk mengembangkan fluoroscope. Alat, tersebut merupakan sebuah sukses yang akhirnya digunakan dalam rumah sakit hari ini. Saat itu X-ray tidak diketahui berbahaya dan Clarence memiliki kebiasaan untuk melakukan tes pada tangannya. Pada tahun 1900, ia memiliki luka yang tidak dapat disembuhkan, sehingga tangannya hams diamputasi. Kondisi Clarence semakin memburuk setelah kedua tangannya diamputasi, dan akhirnya ia meninggal karena kangker. 

Pada 1887, ia memulai proyek yang di kemu­dian hari menjadi kegagalan besar. la mengusulkan sebuah ide untuk menyaring besi dari logam berkualitas rendah yang langsung saja ditertawakan orang sebagai "kebodohan Edison." Edison yang keras kepala kemudian menginvestasikan uangnya sendiri untuk membangun sebuah pabrik dan desa untuk melakukan hal ini, tetapi beberapa tahun kemudian ia menyadari bahwa menambang bijih besi dapat dilakukan dengan biaya yang jauh lebih kecil.

Jadi, dengan seluruh peralatan berat yang tersisa dari kegagalannya, Edison memutuskan untuk masuk ke bisnis semen, la menemukan bahwa ia dapat membentuk semen menjadi berbagai bentuk dan berpendapat bahwa ia dapat membangun sebuah rumah dengan menuang semen ke dalam sebuah bentuk raksasa.

Sumber: Buletin mocopat syafaat 

 

MAIYAH MOCOPAT SYAFAAT Copyright © 2011 - |- Template created by O Pregador - |- Powered by Blogger Templates